Keberadaan Rumah Pengasingan Soekarno Dibalik Eksotika Danau Toba

Browse By

Kota Parapat, siapa masyarakat Sumatera Utara yang tidak mengenal kota ini ? Kota yang terletak di tepi Danau Toba ini mempunyai segudang objek wisata yang sangat eksotis, seperti objek wisata alam, wisata budaya, hingga wisata sejarah yang masing-masing memiliki ciri khas serta keunikan tersendiri. Kota ini merupakan satu diantara beberapa destinasi pariwisata yang berada di Sumatera Utara, bahkan eksotika kota ini pun telah terkenal hingga ke mancanegara.

Sehingga tak jarang, pada bulan-bulan tertentu terlihat banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia yang memadati berbagai objek wisata di kota ini. Namun, ternyata keindahan panorama kota ini pun ternyata tak terlepas dari beberapa cerita sejarah Republik Indonesia yang pernah terjadi di masa lampau, bahkan di kota ini juga terdapat sebuah tempat yang menjadi saksi bisu sejarah Indonesia.

Rumah Pengasingan Soekarno, begitulah nama tempat ini. Bagi Anda yan g pernah melintasi jalan disekitar Kota Parapat, tentunya Anda sudah tidak asing lagi dengan bangunan ini. Bangunan berlantai dua yang cukup besar ini tampak berdiri kokoh dengan di dominasi oleh warna putih dan memiliki halaman yang begitu luas, letaknya tepat di tepi jalan kota Parapat yang berhadapan langsung dengan Danau Toba.
Bangunan ini memang cukup menarik perhatian wisatawan yang melintasi kota ini, tak hanya arsitekturnya yang unik namun kisah di balik rumah pengasingan ini juga menarik untuk menjadi pembelajaran dan penambah wawasan, sehingga tak jarang pada hari-hari tertentu banyak sekali wisatawan lokal maupun mancanegara yang memadati objek wisata sejarah ini, bahkan jumlah wisatawan pun mengalami peningkatan beberapa kali lipat di hari libur sekedar untuk melihat, menelusuri serta mendengarkan kisah sejarah Presiden Pertama Republik Indonesia dan kegiatan-kegiatannya di rumah pengasingan tersebut.

Ya, bangunan ini merupakan saksi bisu dari kisah sejarah Ir.Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia yang kala di asingkan. Tepatnya pada tahun 1948, dimana pada saat itu beberapa tokoh penting Indonesia sengaja diasingkan ke kota ini oleh pemerintah kolonial Belanda untuk keamanan dan keleluasaan mereka dalam menjalankan tugas tanpa adanya gangguan dari pihak-pihak tertentu.
Beberapa tokoh penting tersebut diantaranya Ir. Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Agus Salim yang kala itu menduduki posisi terpenting di Pemerintahan Indonesia. Mereka diasingkan selama kurang lebih satu bulan di kota ini, tepatnya disebuah bangunan yang berdiri di tepi Danau Toba setelah sebelumnya mereka berada di rumah pengasingan Kota Berastagi selama beberapa hari.

Namun ternyata, pengasingan tokoh-tokoh penting tersebut di kota ini sama sekali tidak pernah terdengar ke masyarakat sekitar Kota Parapat, sebab hanya beberapa orang saja mengetahuinya termasuk penjaga rumah pengasingan ini dan beberapa tokoh penting di Sumatera Utara. Hal itu disebabkan, peristiwa pengasingan tersebut sangat tertutup dari masyarakat sekitar, bahkan di rumah pengasingan ini sama sekali tidak tersedia fasilitas untuk berkomunikasi dan keberadaan media elektronik pun kala itu sangat dibatasi demi keamanan tokoh-tokoh tersebut.
Dari halaman depan, bangunan ini tampak begitu unik dan memang terlihat berbeda dibandingkan bangunan-bangunan lainnya. Tentu saja, sebab bangunan ini mengadopsi arsitektur bangunan bergaya klasik yang sering digunakan oleh sebahagian masyarakat di negara-negara Eropa pada awal abad ke 19, dalam sebuah seni arsitektur disebut dengan nama indische architectur yang cukup populer kala itu.
Bangunan yang pernah menjadi rumah pengasingan tokoh-tokoh penting Indonesia ini berdiri di pertengahan tahun 1920’an, yang kala itu berfungsi sebagai bangunan penting untuk melaksanakan kegiatan para petinggi di Sumatera Utara. Bangunan ini di dominasi oleh warna putih dan dengan luas halamannya yang mencapai 2 hektar, uniknya halaman yang terdapat di sekitar bangunan ini tertata dengan kontur-kontur yang rapi dengan beberapa bentuk seperti pada masa klasik. Sehingga apabila wisatawan memasuki kawasan ini, maka wisatawan akan merasakan seperti berada dalam sebuah moment tempo dulu.

Perabot di Dalam

Ketika memasuki rumah pengasingan ini tampak beberapa benda yang menjadi bukti dari pengasingan Ir.Soekarno dan beberapa tokoh penting tersebut, seperti foto, buku-buku milik Ir.Soekarno, serta lukisan. Selain itu juga terdapat ragam perabotan bernuansa tempo dulu, seperti beberapa perabotan ukiran, tempat tidur, hingga beberapa meja dan kursi.
Semua benda-benda dan perabotan tersebut kini menjadi koleksi di rumah pengasingan ini. Seiring dengan waktu, kini rumah pengasingan ini telah menjadi sebuah wisma atau tempat penginapan bagi para petinggi di Sumatera Utara dan beberapa tamu penting yang sedang melakukan dinas atau kunjungan di Sumatera Utara.

Tampak Halaman Belakang

Meskipun begitu, para penjaga rumah ini tetap membuka kunjungan untuk para wisatawan yang ingin melihat-lihat rumah yang bersejarah ini, tentunya pada hari atau waktu yang telah ditentukan. Bahkan para penjaga tersebut pun tak sungkan untuk bercerita tentang keberadaan Ir. Soekarno dan beberapa tokoh lainnya ketika berada di rumah pengasingan ini.
Tak hanya itu, panorama di sekitar rumah pengasingan ini pun sangat menarik, sejauh mata memandang terlihat perairan Danau Toba yang luas membentang dan tampak begitu jernih, disekitarnya dikelilingi oleh perbukitan yang tampak berwarna hijau. Perkampungan-perkampungan di sekitar Danau Toba juga terlihat menarik, dengan ragam kegiatan masyarakat di sekitarnya, bahkan sesekali juga samar-samar terlihat perahu atau kapal yang melintas di sekitar Danau Toba.

Rencana Pilot Project Pengembangan Rumah Pengungsian Sukarno

Panorama tersebut telah memberikan nilai tambah tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata sejarah ini. Bagaimana, Anda tertarik untuk mengunjungi objek wisata sejarah yang satu ini ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *