Cara Sederhana Melihat Kehidupan di Sekitar Kita

Browse By

Cuplikan FIlm Mini Dokumenter “Buka Mata, Buka Cerita”

Ketika kita membuka mata setiap pagi, kita lebih sering melihat apa yang menjadi rutinitas sehari-hari. Keterikatan gadget, layer smartphone, Laptop, suasana kota yang membuat mata menjadi iritasi…”

Penggalan kalimat in membuat saya sadar bahwa berhentilah sejenak terhadap pandangan layar HP mu dan dari tatapan kosongmu, untuk melihat sejenak apa yang tidak tampak di lingkungan sekitarmu, dan apa yang terlupakan ketika kita melintasi dihadapan pandanganmu.
Terkadang kita tidak mengetahui, bahwa begitu banyak hal-hal yang menarik dihadapan kita yang tidak terlihat, terasakan bahkan tidak terpikirkan sekalipun.
Pesan ini tentu tidak hanya sebatas pesan moral melainkan juga untuk menyegarkan kembali kelelahan pandangan mata kita terhadap layar gadget yang senantiasa menghipnotis mata kita yang tidak bisa lepas dari genggamannya.
Ya…cuplikan ini hanyalah sebagai pembukaan awal  dari sebuah FIlm Mini Dokumenter “Buka Mata, Buka Cerita” dari Insto Indonesia. Short movie yang berdurasi 3 menit ini bisa dibilang memberikan sebuah kritikan untuk membangun tentang kehidupan saat ini terutama akan kesadaran tentang kehidupan di sekitar kita.

Memang benar..lives goes on, namun cobalah berhenti sejenak untuk melihat sesuatu yang terkenang di sekitar kita, sesuatu yang pernah menjadi kenangan kita di masa anak-anak. Kapan lagi kenangan itu akan teringat kembali jika tidak dari sekarang, dan harus dimulai dari kesadaran untuk menyimpan sejenak ponsel kita tanpa adanya kesibukan sesuatu yang tidak nyata.
Cobalah.. membayangi kenangan masa kecil kita ketika melihat sebuah ruko wartel yang telah tutup, mungkin akan membuat kita tersenyum bagaimana rasanya dulu pacaran dari wartel, rela mengantri berjam-jam menunggu orang keluar dari ruangan.
Ingatlah…keindahan alam terlalu sederhana digambarkan oleh lensa kamera, sedangkan panca indera adalah gadget yang paling sempurna. Insting manusia untuk survive kadang menjadi berkurang lantaran setiap hari dimudahkan oleh teknologi.
Sesuatu yang terlewatkan itu tidak dapat dibayangkan dan terpikirkan jika pola pikiran kita terhipnotis layar ponsel kita. Lupakan sejenak maka dengan begitu kita semakin mengingat akan momen dan esensi sebuah “pemandangan” di depan mata kita sendiri. Lupakanlah sejenak momen yang hanya sebatas pandangan ponsel kita, namun itu tidak akan menjadi satu kesatuan yang utuh jika suara-suara di depan kita itu akan lebih menyatu.
Banyak yang tidak mengetahui seorang Blair McMilan dari Ontaria, Kanada, sebuah keluarga yang berusaha hidup di tahun 1980-an tanpa kehadian ponsel dan internet. Dia seorang Ayah yang memutuskan untuk hidup selama setahun seperti tahun 1980an dai tahun 2013 – 2014.

Blair McMilan berpikir kalau saat ia kecil, ia sering bermain di luar dan bersosialisasi dengan orang di sekitarannya. Hal itu pula yang kemudian membuat Blair lebih memilih agar anaknya bermain di luar dan melihat bagaimana kehidupan social yang sebenarnya dalam kehidupannya.  Hasilnya sangat luar biasa, Blair mendapatkan banyak sisi positif dalam hidupnya, terutama ia lebih dekat dengan keluarganya. Ia juga merasakan arti hidup yang sebenarnya ketika tanpa kehadiran ponsel. Mungkin tidak banyak orang yang sanggup mengikutinya, hal yang perlu diperhatikan adalah Balancing of Life
International Center for Media & the Public Agenda (ICMPA) di University of Maryland pernah mengadakan survey terhadap 1.000 mahasiswa dari 10 negara untuk tidak menggunakan gadget apapun selama 24 jam. Hasilnya? Mengejutkan, ternyata banyak pengalaman hidup mereka selama 24 jam tidak ‘berfungsi’ optimal. Kebanyakan dari mereka bingung, panik, cemburu, marah, kesepian, paranoid, depresi diantaranya. Banyak yang mengatakan bahwa mereka gatal seperti kecanduan dan merasa tersesat dan mengatakan bahwa ponsel telah memberikan perasaan nyaman secara mental maupun fisik.
Teknologi ponsel dapat membius pola pikirmu untuk tunduk pada layar dengan mengabaikan yang lain. JIka kita tidak menyadarinya ibarat dalam video ini, maka dia akan kesepian dan kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam dirinya, yakni kebersamaan, hubungan kekeluargaan, dan hubungan sosial yang romantis dan hangat. JIka pengaruh yang demikian semakin jauh, kamu tidak akan merasakan kebutuhan yang sebenarnya.
Ibarat orang pertama kali tinggal di dekat kendang ayam. Minggu pertamanya susah tidur, kalaupun bisa hanya satu dua jam saja karena baunya menyengat. Minggu kedua, sudah agak bisa menyesuaikan diri dengan bau tersebut hingga minggu-minggu selanjutnya sudah terbiasa. Nah..setelah bertahun tahun kemudian tinggal di sana, pasti sudah rindu pada bau tersebut, bahkan tidak bisa tidur jika belum mencium aroma kendang ayam.

Cuplikan FIlm Mini Dokumenter “Buka Mata, Buka Cerita”

Video yang merupakan kolaborasi Nia Dinata dengan  9 anak muda Indonesia sebagai Co-Director terpilih ini memberikan renungan, bahwa janganlah selalu menggunakan ponsel hanya sebagai perangkat untuk berkomunikasi antar sesama dan terlupakan akan disekitar kita. Ditambah kehidupan hirup pikuk keseharian kita, yang membuat kita lupa akan kehadiran banyak orang dan memori serta sosial di lingkungan kita.
Tidak perlu jauh-jauh, Hal ini sering terjadi di dalam rumah tangga, bertemu tetangga hanya ketika bendera putih (tanda kematian) berdiri di depan rumah tetangga. Ketika itu, baru kita sadar ada anggota tetangga yang wafat. Dengan sedikit basa-basi kita membesuk sebentar sebelum pergi ke kantor
Kemajuan teknologi yang membuat kita sibuk, yang semula untuk memudahkan manusia, ketika urusan itu semakin mudah, maka muncul “kesepian” dan keterasingan baru, yakni lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan, dan silaturrahmi. Layar kemudian menjadi teman setia, bahkan kita lebih memperhatikan dunia layar dibandingkan istri/suami, dan anak sekalipun.

Insto dan Motivasi Sosial

Mengapa harus Insto? Ya karena saya melihat film dokumenter ini dikemas secara sederhana dan mudah untuk dipahami. Bahwa benar selain membuka mata kita terhadap lingkungan sosial, melupakan sejenak kehadiran ponsel kita mampu memelihara kesehatan mata yang merupakan sangat penting dilakukan. Kehidupan di Ibukota yang sangat hiruk pikuk membuat lelahnya mata kita semakin bertambah. Lelah hati, Lelah jiwa Lelah segalanya.
Tulisan yang saya buat dilihat dari segi kegiatan sosial yang secara tidak langsung memberikan efek positif pada kesehatan mata. Ingatlah, banyak aktifitas kegiatan terutama di ibukota membuat kita Lelah seperti membaca sambil tiduran, duduk berlama-lama di depan computer, menonton TV sepanjang hari, membaca di kendaraan saat berjalan, terkena teriknya sinar matahari, terkena debu dan asap kendaraan, bahkan menjahit dengan jarum yang memaksa mata untuk berkonsentrasi tinggi.
Peran visi dan misi dari Insto yang telah hadir selama 30 tahun  ini memang senantiasa melakukan edukasi tentang pentingnya memiliki mata yang sehat. Khususnya bagi anak muda yang kerap memiliki gaya hidup serba aktif dan sangat produktif. Selain memberikan wadah untuk berkarya, melalui kegiatan ini juga mengedukasi mereka tentang kesehatan mata. (KPS)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *