Serba Serbi

Dolok Martimbang, Pesawat Kepresidenan Resmi Pertama Bung Karno

Dolok Martimbang adalah nama sebuah gunung berapi non-aktif yang berada di kawasan Tarutung, Tapanuli Utara.  Dolok, dalam bahasa masyarakat Batak setempat berarti bukit, yakni undukan tanah tinggi yang besar. Sementara, ‘Martimbang” berarti seimbang, take and give. Ketinggian gunung ini adalah pada 1.680 meter di atas permukaan air laut.

Panorama Dolok Martimbang di Tapanuli Utara, Sumut

Namun, Dolok Martimbang tak hanya mahsyur di kalangan Batak. Tapi, dunia kedirgantaraan republik ini, khususnya TNI Angkatan Udara mencatat nama gunung ini dalam sejarah perkembangan armada pesawat yang pernah dioperasikannya.
Dolok Martimbang pernah didaulatkan sebagai nama pesawat resmi kepresidenan yang pertama saat Presiden Soekarno berkuasa. Di badan pesawat, tepatnya di sisi depan sebelah kiri-kanan pesawat itu disematkan tulisan “Dolok Martimbang”.
Belum diketahui persis, siapa orang yang mengajukan nama ‘Indonesian Air Force One’ tersebut dengan nama Dolok Martimbang. Apakah itu pilihan langsung Soekarno atau diusulkan oleh orang lain. Belum ada sumber resmi yang mencatat asal-usul penamaan pesawat kepresidenan tersebut.
Boleh jadi, pengalaman Soekarno yang pernah ditawan oleh Belanda di Parapat sekitar 1949, yang menginspirasi pemilihan Dolok Martimbang sebagai nama pesawat kepresidenan yang pertama itu. Bung Karno kala itu ditawan bersama Sjahrir dan Agus Salim, setelah mereka bertiga ditahan lebih dulu di Berastagi, Tanah Karo, Sumatera Utara. Rumah tahanan Soekarno memang persis menghadap Danau Toba.
Situs tni-au.mil.id menyebut, bahwa pesawat yang merupakan ‘hadiah’ dari Presiden Uni Soviet  Nikita Kruschev, setelah dilakukan modifikasi interior, kemudian diberi nama Dolok Martimbang. Jenis pesawat angkut ringan IL-14 Avia ini sering dipakai boleh Bung Karno untuk perjalanannya ke pelosok Tanah Air.
Bung Karno bahkan langsung meninjau pesawat, saat baru tiba dari Uni Soviet di Pangkalan Udara Halim pada 10 Mei 1957 silam, setelah dikirim oleh koleganya Nikita Kruschev. Pesawat itu adalah buah tangan alias oleh-oleh kunjungannya ke Uni Soviet, ketika suasana politik dunia antara kekuatan komunis dan Barat sedang panas-panasnya.
“Kelahiran ‘Dolok Martimbang’ sebagai pesawat kepresidenan tercatat sebagai tonggak sejarah perkembangan TNI AU karena sekaligus merupakan embrio lahirnya Skadron Udara 17/VIP,” tulis situs tersebut.
Memang, sejak dipakainya ‘Dolok Martimbang’ sebagai pesawat kepresidenan, Menteri Panglima Angkatan Udara kala itu langsung berbenah diri membentuk Skadron Angkut Khusus yang mempunyai tugas pokoknya untuk melaksanakan dan melayani penerbangan-penerbangan VIP/VVIP termasuk penerbangan kepresidenan dengan pesawat khusus.
Penggunaan pesawat kepresidenan “Dolok Martimbang” berkisar tahun 1960 hingga tahun 1964. Setelah pesawat “Dolok Martimbang” pensiun, kemudian digantikan oleh jenis pesawat yang lebih modern, yaitu pesawat C-140 Jetstar, bermesin dua, full jet engine. Pesawat khusus dengan kapasitas delapan orang tersebut diberi nama “Pancasila”.

Pesawat Kepresidenan ‘Pancasila’ Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta.

 

Share:

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *