Danau TobaUpdates

Keren! Danau Toba Bakal Jadi Destinasi Kelas Dunia

Menteri Pariwisata Arief Yahya resmi membuka The Kaldera – Toba Nomadic Escape, Kamis (4/4). Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pelepasan burung merpati.

Menurut Menpar, The Kaldera akan menjadi nomadic amenitas. Kehadiran Menpar di The Kaldera, disambut dengan Tari Tor Tor dan balutan kain Ulos. Ada juga aksi berbalas pantun.

Menpar datang bersama Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara, Staff Khusus Menpar Bidang Komunikasi dan Media Don Kardono, juga Ketua Tim Percepatan 10 Bali Baru Hiramsyah S Thaib. Hadir juga kepala daerah sekitar Danau Toba, dan tamu undangan lainnya.

Rombongan ini disambut Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo, dan Ketua Tim Percepatan Nomadic Tourism Waizly Darwin.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, lahan The Kaldera bahkan lebih luas dari KEK Nusa Dua dan Tanjung Kelayang.

“Jadi harus dipahami. The Kaldera Toba Nomadic Escape itu berada di kawasan Toba Caldera Resort. Dan lebih luas dari Nusa Dua dan Tanjung Kelayang,” kata Arief.

Menpar juga menjelaskan, alasan membangun nomadic tourism di kawasan Danau Toba.

“Tentu ada alasan mengapa kita bangun The Kaldera ini. Saya menyebutnya sebagai nomadic tourism. Artinya bisa berpindah pindah. Kenapa bisa berpindah? Karena membangun amenitas yang tetap itu butuh waktu yang cukup lama,” papar Arief.

Menurut Arief, membangun sebuah amenitas seperti hotel berbintang butuh waktu hingga lima tahun. Sebagai solusi, Kemenpar hadirkan nomadic tourism. Dengan karakternya, The Kaldera dinilai sangat cocok untuk menerapkan nomadic amenitas.

“Jadi, kita membuat klasifikasi untuk wisata nomadic ini. Seperti nomadic atraksi kita terapkan di Borobudur. Di Labuan Bajo, kita buat nomadic akses. Karena di sana dilengkapi dengan yacht dan lainnya. Tantangan The Kaldera adalah membuat atraksi di luar The Kaldera. Dan ini menjadi tugas Kepala BPDOT,” katanya.

“Jadi, kita membuat klasifikasi untuk wisata nomadic ini. Seperti nomadic atraksi kita terapkan di Borobudur. Di Labuan Bajo, kita buat nomadic akses. Karena di sana dilengkapi dengan yacht dan lainnya. Tantangan The Kaldera adalah membuat atraksi di luar The Kaldera. Dan ini menjadi tugas Kepala BPDOT,” katanya.

“Amenitas yang kita tampilkan di The Kaldera sangat beragam. Wisatawan memiliki banyak pilihan. Ada Bell Tent yang berjumlah 15, ada 2 Bubble Tent, 2 Cabin, juga Ecopod. Semuanya menawarkan pengalaman yang berbeda. Dan ini menjadi keunggulan The Kaldera,” paparnya.

Arie menambahkan, keunggulan lain The Kaldera adalah posisinya yang berada di ketinggian. Sekitar 1390 mdpl. Dengan posisinya, yang ditawarkan The Kaldera adalah view Danau Toba yang sangat eksotis.

“Konsep seperti ini mungkin sudah ada di tempat lain di Danau Toba. Tapi kita jelas memberikan sesuatu yang berbeda. Pertama, The Kaldera ini menggabungkan atraksi dan amenitas. Nantinya, kita akan bikin konsep agar ada atraksi yang ditampilkan di Amphitheater setiap minggunya,” papar Arie.

lokasi The Kaldera tidak terlalu jauh. Posisinya hanya 20 Menit dari Parapat, atau sekitar 1 Jam 30 Menit dari Balige. The Kaldera juga berjarak 2 Jam dari Bandara Silangit, dan hanya 10 Menit dari Bandara Sibisa.

Segmen utama wisatawan adalah para nomad, milenial dan family. Selain wisatawan nusantara, wisatawan mancanegara yang menjadi target adalah dari Malaysia, Singapura dan Eropa.

“The Kaldera memiliki view yang mempesona. Dari lokasi, kita bisa melihat indahnya Desa Wisata Sigapiton yang berlokasi di lembah di bawah The Kaldera, diapit bukit di kanan dan kiri dengan pemandangan Danau Toba dan Pulau Samosir di kejauhan.

kumparan.com dan dikutip dari berbagai sumber

Share:

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *